Eksplorasi Konsep - Modul 1.4. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
- Senin, 30 September 2024
- Administrator
- 0 komentar
Tujuan Pembelajaran
- CGP dapat menjelaskan dan menganalisis Teori Motivasi dan Motivasi Intrinsik yang dituju, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya.
- CGP dapat menjelaskan konsep hukuman dan penghargaan, dan konsep pendekatan restitusi.
- CGP dapat melakukan pengamatan dan peninjauan atas praktik penerapan konsep-konsep tersebut di lingkungannya sendiri.
Bapak Ibu calon guru penggerak,
Mari kita tanyakan ke diri kita sendiri, bagaimana kita berperilaku? Mengapa kita melakukan segala sesuatu? Apakah kita melakukan sesuatu karena adanya dorongan dari lingkungan, atau ada dorongan yang lain? Terkadang kita melakukan sesuatu karena kita menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan, terkadang kita juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita mau.
3 Motivasi Perilaku Manusia
Bapak Ibu calon guru penggerak,
Bagaimana menurut Anda? Pernahkah Anda melakukan sesuatu untuk mendapat senyuman dari orang lain? Untuk mendapat hadiah? Atau untuk mendapatkan uang? Apalagi kira-kira alasan orang melakukan sesuatu? Untuk mengetahui lebih jauh lagi mengenai motivasi manusia, mari kita baca artikel ini:
Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 motivasi perilaku manusia:
- Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
Ini adalah tingkat terendah dari motivasi perilaku manusia. Biasanya orang yang motivasi perilakunya untuk menghindari hukuman atau ketidaknyamanan, akan bertanya, apa yang akan terjadi apabila saya tidak melakukannya? Sebenarnya mereka sedang menghindari permasalahan yang mungkin muncul dan berpengaruh pada mereka secara fisik, psikologis, maupun tidak terpenuhinya kebutuhan mereka, bila mereka tidak melakukan tindakan tersebut. Motivasi ini bersifat eksternal. - Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
Satu tingkat di atas motivasi yang pertama, disini orang berperilaku untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sebuah tindakan untuk mendapatkan pujian dari orang lain yang menurut mereka penting dan mereka letakkan dalam dunia berkualitas mereka. Mereka juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan hadiah, pengakuan, atau imbalan. Motivasi ini juga bersifat eksternal. - Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.
Orang dengan motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti apabila saya melakukannya? Mereka melakukan sesuatu karena nilai-nilai yang mereka yakini dan hargai, dan mereka melakukannya karena mereka ingin menjadi orang yang melakukan nilai-nilai yang mereka yakini tersebut. Ini adalah motivasi yang akan membuat seseorang memiliki disiplin positif karena motivasi berperilakunya bersifat internal, bukan eksternal.
Pernahkan Anda berada dalam sebuah situasi dimana anda sengaja melakukan sesuatu yang menyakitkan bagi anda, bahkan bertabrakan dengan penghargaan dari orang lain? Mengapa anda tetap memilih melakukannya padahal anda tahu akibatnya akan menyakitkan, anda mungkin akan dikecam secara sosial, bahkan ada kerugian secara finansial? Apa prinsip-prinsip yang anda perjuangkan dan anda lindungi? Saat itu, anda sedang menjadi orang yang seperti apa?
Saya pernah berada pada posisi tersebut, dimana kalau dipikir kembali, itu menyakitkan bagi diri saya, dikecam secara sosial serta rugi secara finansial. Situasi saat itu saya senang balapan motor dengan suara motor prang, bahkan dengan dengan tindakan tersebut saya pertama kali melawan dan berkata kasar terhadap alm. ibu kandung saya. Dengan sikap itulah ibu kandung saya menetes air mata yang luar biasa karena melarang untuk melakukan itu, akibat tindakan tersebut saya jatuh dari atas motor karena kecepatan, namun karena doa seorang ibu, saya masih tetap sehat walafiat sampai sekarang, semenjak itu saya tidak pernah lagi melawan kata ibu sampai beliau wafat.
mengapa tetap saya memilih melakukan itu, karena :
- merasa paling berani
- merasa paling hebat
- merasa paling jago
- merasa paling bernyali
- senang dengan kegiatan adrenalin tinggi.
prinsip yang diperjuangkan dan dilindungi saat itu adalah :
- Berani, hebat, jago, bernyali, tidak memiliki rasa takut, tantangan menarik.
- saat itu saya masih berumur 22 tahun dan orang yang ingin bebas dari segala hal tanpa ada larangan apapun
Tugas 2.2 (1)
Bapak Ibu calon guru penggerak,
Tujuan dari disiplin positif adalah menanamkan motivasi yang ketiga pada murid-murid kita yaitu untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid-murid kita memiliki motivasi tersebut, mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara kita sebagai guru untuk menanamkan disiplin positif yang positif ini kepada murid-murid kita?
Sekarang, mari pikirkan tentang diri Anda sendiri. Anda sekarang mengikuti Program. Guru Penggerak, mengapa Anda mengikuti program ini? Apakah bila Anda tidak mengikuti program ini, akan ada hal yang menyakitkan yang akan terjadi pada Anda? Apakah ada hadiah atau penghargaan setelah Anda mengikuti program ini? Atau apakah Anda mengikuti program ini karena Anda ingin menjadi seorang guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini, misalnya menjadi seorang guru pemelajar? Apa dampak ketiga motivasi tersebut pada diri Anda sebagai calon guru penggerak? Yang mana motivasi yang paling akan berdampak jangka panjang dan membuat Anda terus bersemangat secara internal?
Mungkin pada awalnya motivasi Anda mengikuti program ini karena ingin mendapat penghargaan. Namun seiring Anda mengikuti program ini dan kemudian menikmatinya, mungkinkah motivasi Anda akan berubah menjadi sebuah pemahaman untuk menjadi guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini? Bila itu terjadi, dampaknya pada diri Anda?
mengapa Anda mengikuti program ini?
Saya mengikuti program guru penggerak untuk menambah ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan terutama pendidikan yang berpihak kepada murid serta meningkat mutu sekolah.
Apakah bila Anda tidak mengikuti program ini, akan ada hal yang menyakitkan yang akan terjadi pada Anda?
saya akan mengalami kecewa dan menyakitkan buat saya karena membutuh perjuangan maksimal untuk mengikuti program ini
Apakah ada hadiah atau penghargaan setelah Anda mengikuti program ini?
Tidak ada hadiah atau penghargaan yang ada untuk diri saya, tepati ilmu pengetahuan yang menjadi hadiah buat saya.
Atau apakah Anda mengikuti program ini karena Anda ingin menjadi seorang guru dengan nilai-nilai yang Anda yakini, misalnya menjadi seorang guru pemelajar?
Betul sekali, saya ingin menjadi guru pemelajar
Apa dampak ketiga motivasi tersebut pada diri Anda sebagai calon guru penggerak?
Sejalannya waktu motivasi saya menjadi berubah saya menikmati prosesnya karena benar berefek bagi murid di dalam kelas, murid menjadi lebih bersemangat belajar, lebih berani mengembangkan potensi diri dan lebih kreatif. Hal ini juga berdampak pada diri saya sendiri karena saya menjadi lebih bahagia dan puas akan pencapaian yang saya peroleh
Yang mana motivasi yang paling akan berdampak jangka panjang dan membuat Anda terus bersemangat secara internal?
menjadi guru pemelajar yang selalu berpihak kepada murid.
Tugas 2.2 (2)
Sebagai seorang guru, saat Anda hadir mengajar di kelas tepat waktu, motivasi apakah yang mendasari tindakan Anda? Apakah Anda datang tepat waktu karena tidak ingin ditegur oleh atasan Anda dan kemudian mendapat surat peringatan (menghindari ketidaknyamanan dan hukuman) atau Anda ingin mendapatkan pujian dari atasan Anda dan mendapat penghargaan sebagai karyawan atau guru berprestasi? (mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain), atau Anda ingin menjadi orang yang menghargai waktu, menghargai diri Anda sendiri sebagai teladan bagi murid-murid Anda karena Anda percaya, tindakan Anda sebagai guru akan dicontoh oleh murid-murid Anda (menghargai nilai-nilai diri sendiri). Manakah motivasi yang paling kuat mendasari tindakan Anda? Atau bahkan kombinasi dari dua motivasi, atau bahkan ketiga-tiganya?
Sebagai seorang guru, saat Anda hadir mengajar di kelas tepat waktu, motivasi apakah yang mendasari tindakan Anda?
Motivasi saya adalah memberi contoh dan menjadi teladan bagi murid-murid saya bahwa kita harus menghargai waktu serta menghargai diri sendiri untuk selalu disiplin.
Manakah motivasi yang paling kuat mendasari tindakan Anda?
Motivasi ini yang paling kuat menjadi dasar saya yaitu ingin menjadi orang yang menghargai waktu, menghargai diri sendiri sebagai teladan bagi murid-murid saya karena saya percaya, tindakan saya sebagai guru akan dicontoh oleh murid-murid saya
Tugas 2.2 (3)
Bila di sekolah Anda tidak ada peraturan yang mengharuskan guru datang tepat waktu dan tidak ada surat teguran bagi guru yang datang terlambat, dan tidak ada atasan yang memuji Anda, apakah Anda akan tetap datang tepat waktu untuk mengajar murid-murid Anda? Jelaskan alasan Anda.
Saya akan tetap datang tepat waktu, karena saya sangat menghargai waktu, sangat menghargai diri sendiri, memiliki rasa malu jika terlambat, jika terjadi terlambat saya akan melakukan konfirmasi serta minta maaf kepada murid karena lambat, serta memberi contoh dan teladan kepada murid-murid saya.
Tugas 2.2 (4)
Menurut Anda, dari ketiga jenis motivasi tadi, motivasi manakah yang saat ini paling banyak mendasari perilaku murid-murid Anda di sekolah? Jelaskan!
Motivasi yang mendasari perilaku murid-murid saya yaitu :
Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain
Karena saya mengajar kelas 7 SMP dimana murid-murid mengalami proses dari anak-anak keremaja. Mereka membutuhkan pengakuan, pujian serta penghargaan dari guru-gurunya. Sehingga menimbulkan kepercayaan diri murid saya. Dengan meningkatnya kepercayaan diri mereka, murid-murid berani berkomunikasi dengan guru, bertanya saat dalam kelas, menceritakan masalah yang dihadapi, mencurahkan isi hatinya.
Tugas 2.2 (5)
Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda?
Strategi apa yang selama ini Anda terapkan untuk menanamkan disiplin positif pada murid-murid anda, bagaimana hasilnya pada perilaku murid-murid Anda?
Strategi yang saya terapkan dalam menanam disiplin positif yaitu :
- memberikan motivasi berupa pujian, senyuman, dan penguatan,
- mengajak murid membuat kesepakatan kelas yang dibuat bersama.
- Mengajak peduli dengan diri sendiri, teman dan lingkungan sekolah
- mengajak untuk saling membantu teman-teman sekelasnya yang mengalami permasalahan dan kendala dalam pembelajaran atau dikenal dengan istilah tutor teman sebaya
- Memberikan keteladanan dan manfaat ataupun dampak dari tindakan disiplin atau tidak disiplin
- Melakukan komunikasi secara individu kepada murid tentang permasalahan yang di hadapinya serta memberi pendapat dan saran terbaik untuknya.
Hasilnya terhadap murid saya, yaitu :
- selalu senyum dan mau menyapa guru lain dengan ramah walaupun guru tersebut bukan guru dikelas mereka.
- jika murid melanggar kesepakatan, murid sudah mengerti dan bersedia melaksanakan kesepakatan bersama tersebut.
- Mau merapikan diri sendiri, kuku bersih, rambut rapi, selalu mengingatkan kawannya untuk buang sampah pada tempatnya serta mau mengambil sampah jika mereka menemukannya.
- Mau membantu teman yang mengalami kesusahan dalam pembelajaran.
- datang tepat waktu saat masuk kelas serta mengerjakan tugas pelajaran dengan tepat waktu.
- sudah mau mengungkapkan masalah dirinya yang selalu menghambat untuk belajar dengan baik
Tugas 2.2 (6)
Nilai-nilai kebajikan apa yang Anda berusaha tanamkan pada murid-murid Anda di kelas dan sekolah Anda?
Nilai kebajikan yang saya usaha tanamkan pada murid-murid saya, yaitu :
- beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME dan berahlak mulia
- Jujur
- bertanggung jawab
- displin waktu,
- Saling menghargai
- berani mengungkapkan pendapat
- saling membantu
- kreatif dalam pembelajaran.
- memiliki ide dan bernalar kritis dalam kegiatan pembelajaran
Pertanyaan Reflektif
Bacalah kasus Ibu Anas di bawah ini dan cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan:
Iva kurang menguasai pelajaran Matematika, sehingga pada saat pelajaran tersebut berlangsung, dia lebih banyak berdiam diri atau menggambar di buku pelajarannya. Pada saat guru Matematikanya, Pak Seno, menanyakan pertanyaan Iva menjadi gugup, dan tak sengaja menjatuhkan tasnya dari kursi, serta tiba-tiba menjadi gagap pada saat berupaya menjawab. Seluruh kelas pun tertawa melihat perilaku Iva yang bicara tergagap dan terkejut tersebut. Pak Seno pada saat itu membiarkan teman-teman Iva menertawakan Iva yang tergagap dan malu luar biasa, dan malahan minta Iva untuk maju ke depan dan berdiri di depan kelas sambil menunjuk hidungnya karena tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Seno. Kelas makin gaduh, dan anak-anak pun tertawa melihat Iva di depan kelas memegang ujung hidungnya.
Jawablah kedua pertanyaan ini, dan berilah minimal 2 tanggapan terhadap jawaban rekan Anda.
- Apakah Anda setuju dengan tindakan pak Seno terhadap Iva? Mengapa?
- Menurut Anda, tindakan Pak Seno terhadap Iva adalah sebuah hukuman atau konsekuensi? Mengapa?
- Saya tidak setuju dengan tindakan pak seno karena membuat iva memiliki rasa takut dan malu sehingga mengalami gugup, hal ini dapat menurunkan rasa kepercayaan diri seorang murid serta akan berefek minder, bisa jadi jika ini berlangsung terus menerus iva tidak mau belajar dan sekolah lagi.
- menurut saya tindakan pak seno terhadap iva sebuah hukuman karena meminta iva maju kedepan dan menunjuk hidungnya, hal ini membuat iva menjadi memiliki rasa takut terhadap pak seno jika mengalami kesalahan lagi.
Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi
Dalam menjalankan peraturan ataupun keyakinan kelas/sekolah, bilamana ada suatu pelanggaran, tentunya sesuatu harus terjadi. Untuk itu kita perlu meninjau ulang tindakan penegakan peraturan atau keyakinan kelas/sekolah kita selama ini. Tindakan terhadap suatu pelanggaran pada umumnya berbentuk hukuman atau konsekuensi. Dalam modul ini akan diperkenalkan program disiplin positif yang dinamakan Restitusi.
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi juga merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996).
Sebelum kita membahas lebih mendalam tentang penerapan Restitusi, kita perlu bertanya dahulu, adakah perbedaan antara hukuman dan konsekuensi? Bila sama, di mana persamaannya? Bila berbeda, bagaimana perbedaannya? Di bawah ini Anda akan diberikan suatu gambaran perbedaan antara Hukuman, Konsekuensi, dan Restitusi itu sendiri.
Bila kita melihat bagan di bawah ini, kata disiplin tanpa tambahan kata ‘positif’ di belakangnya, sesungguhnya sudah merupakan identitas sukses dan hukuman merupakan identitas gagal. Disiplin yang sudah bermakna positif terbagi dua bagian yaitu Disiplin dalam bentuk Konsekuensi, dan Disiplin dalam bentuk Restitusi, yang selanjutnya akan dijelaskan dengan lebih rinci di pembelajaran 2.2 dan 2.6.
Tugas Mandiri
Setelah membaca bagan tentang perbedaan Hukuman, Konsekuensi dan Restitusi, maka isilah bagan di bawah ini, kira-kira bila seorang guru/orang tua melakukan tindakan yang dinyatakan di kolom sisi kiri, apakah tindakan tersebut berupa sebuah hukuman, konsekuensi?
Hukuman atau Konsekuensi ?
Mencatat 100 kali di dalam buku kalimat, “Saya tidak akan terlambat lagi”, karena terlambat ke sekolah.
Sangsi/Konsekuensi
Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat hadir di sekolah.
Hukuman
Membersihkan coretan yang dibuatnya di meja tulis.
Sangsi/Konsekuensi
Murid diminta untuk ‘push up’ 15 kali karena tidak menggunakan masker ke sekolah.
Hukuman
Menggantikan kertas tugas teman yang telah dicoret-coret.
Sangsi/Konsekuensi
Berjemur di lapangan basket pukul 12:00 siang karena mengobrol dengan teman.
Hukuman
Murid diminta bertelanjang kaki sepanjang hari karena tidak menggunakan sepatu warna hitam sesuai peraturan sekolah.
Hukuman
Berdiri di depan kelas sambil mengangkat kaki satu, karena tidak bisa menjawab pertanyaan.
Hukuman
Membersihkan tumpahan air di meja tulis karena tersenggol pada saat belajar.
Sangsi/Konsekuensi
Kehilangan 10 menit jam istirahat untuk mengerjakan tugas, karena terlambat datang dan tertinggal pelajaran selama 10 menit.
Sangsi/Konsekuensi
Duduk di bangku di pinggir lapangan pada jam istirahat, tidak diizinkan bermain oleh guru piket, karena mencederai teman saat bermain di lapangan.
Sangsi/Konsekuensi
Terlambat hadir di pembelajaran daring 15 menit, dan diminta untuk tinggal 15 menit sesudah kelas usai untuk membahas ketertinggalan pembelajaran.
Sangsi/Konsekuensi
Lari mengelilingi lapangan basket 2 kali karena terlambat 10 menit untuk pelajaran PJOK.
Sangsi/Konsekuensi
Membersihkan WC sekolah karena mematahkan pensil kawannya.
Hukuman
Pertanyaan Reflektif 2
Bacalah kasus Ibu Anas di bawah ini dan jawablah pertanyaan-pertanyaan yang diberikan:
Ibu Anas guru kelas 2 SD, mendapatkan masalah. Murid-muridnya tidak bisa tertib berdiri antri di depan pintu kelas, dan selalu berebutan masuk ke dalam kelas setelah jam istirahat usai. Ini tentunya sangat mengganggu proses pembelajaran dimana kelas tidak dapat mulai tepat waktu karena Ibu Anas sibuk menenangkan murid-muridnya untuk waktu cukup lama. Akhirnya Bu Anas berpikir cepat, dan mengandalkan stiker bintang. Setiap murid-muridnya akan masuk kelas usai jam istirahat, Bu Anas akan mengiming-imingi murid-muridnya dengan stiker bintang. “Siapa yang dapat berdiri lurus dan berbaris rapi antri di depan pintu, dapat bintang dari Bu Anas!” Sebagian besar murid-muridnya menyambut tantangan tersebut, dan langsung berdiri rapi di depan pintu agar mendapatkan stiker bintang. Hal ini terus dilakukan Bu Anas selama beberapa minggu, karena cukup berhasil membuat murid-muridnya berdiri rapi antri di depan pintu. Sampai pada suatu saat Bu Anas sakit, dan terpaksa digantikan Pak Heru. Pak Heru tidak mengetahui tentang stiker bintang, dan benar saja, pada saat mau masuk ke kelas usai jam istirahat murid-murid kelas 2 kembali berebutan masuk kelas. Apa yang terjadi, mengapa?
Jawablah ketiga pertanyaan ini, dan berilah minimal 2 tanggapan terhadap jawaban rekan Anda.
- Berdasarkan teori motivasi yang telah Anda pelajari pada pembelajaran sebelumnya, kira-kira apa motivasi murid-murid kelas 2 untuk bersedia berdiri antri sebelum masuk kelas?
- Adakah cara lain agar murid-murid kelas 2 bersedia antri di depan kelas tanpa diberi penghargaan stiker bintang? Jelaskan.
Jawaban :
- Motivasi mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
- Cara lain yang dapat dilakukan seperti jika anak-anak berbaris dengan lurus dan rapi maka akan bapak kasi tos dan foto bersama 5 menit sebelum pulang, anak sd kelas 2 paling senang di ajak foto selfi bersama.
Dihukum oleh Penghargaan
Saat kita berulang kali menjanjikan hadiah kepada anak-anak agar berperilaku bertanggung jawab, atau kepada seorang murid agar mempelajari sesuatu yang baru, atau kepada seorang karyawan agar melakukan pekerjaan yang berkualitas,kita sedang berasumsi mereka tidak dapat melakukannya, atau mereka tidak akan memilih untuk melakukannya.”
(Alfie Kohn)
Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995) mengemukakan baik penghargaan maupun hukuman, adalah cara-cara mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran yang sesungguhnya. Menurut Kohn, secara ideal tindakan belajar itu sendiri adalah penghargaan sesungguhnya.
Kohn selanjutnya juga mengemukakan beberapa pernyataan dari hasil pengamatannya selama ini tentang tindakan memberikan penghargaan yang nilainya sama dengan menghukum seseorang.
| Pengaruh Jangka Pendek dan Jangka Panjang |
|
| Penghargaan Tidak Efektif |
|
| Penghargaan Merusak Hubungan |
|
| Penghargaan Mengurangi Ketepatan |
Riset I: Dalam sebuah percobaan, sekelompok anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun diminta untuk melihat gambar-gambar wajah yang ditampilkan di layar, dan mereka harus memberitahukan jika wajah-wajah tersebut sama atau berbeda. Gambar-gambar tersebut hampir sama. Beberapa dari mereka diberi penghargaan (dalam bentuk uang) pada saat mereka memberikan jawaban benar, sementara sebagian yang lain tidak. Hasil: Anak laki-laki yang dibayar membuat lebih banyak kesalahan. Riset II: Anak-anak diminta mengingat kata-kata tertentu, kemudian mereka diminta mengambil kartu yang berisi kata-kata yang diingat tersebut setiap kali muncul. Beberapa anak diberikan permen setiap mereka memberikan jawaban yang benar, dan sebagian yang lain hanya diberitahu saja bila jawaban mereka benar. Hasil: Anak-anak yang mendapatkan permen jawabannya banyak yang tidak tepat dibandingkan anak-anak yang hanya diberitahu jawabannya benar. |
| Penghargaan Menurunkan Kualitas | Pengamatan dilakukan pada sekelompok mahasiswa/i yang sedang kerja praktik di sebuah surat kabar universitas; saat itu mereka sedang belajar menuliskan sebuah artikel tentang sebuah judul berita utama. Seiring waktu mahasiswa/i tersebut semakin mampu bekerja dengan cepat. Kemudian, ada beberapa mahasiswa/i yang dibayar untuk setiap judul berita utama yang mereka mampu hasilkan, dan setelah beberapa lama mahasiswa/i yang dibayar ini hasil kinerjanya berhenti berkembang. Mereka yang tidak menerima bayaran terus berupaya mengasah diri menjadi lebih baik. |
| Penghargaan Mematikan Kreativitas |
|
| Penghargaan Menghukum |
|
Disadur dari materi pelatihan ‘Dihukum oleh Penghargaan’, Yayasan Pendidikan Luhur-Foundation for Excellence in Education, 2006.
Tugas 2.2 (7)
Bacalah kedelapan pembahasan tentang ‘Dihukum oleh Penghargaan’ yang dirangkum dalam kotak pada halaman sebelumnya. Rangkuman itu berisi pernyataan-pernyataan atau hasil penelitian yang dikumpulkan oleh pakar pendidikan Alfie Kohn.
Pilihlah dua kotak yang berisi pernyataan atau hasil penelitian yang paling menarik atau menantang untuk Anda. Tuliskan tanggapan Anda terhadap pernyataan/hasil penelitian yang Anda pilih tersebut, kemudian berilah minimal 2 tanggapan atas jawaban/tanggapan rekan Anda.
Yang paling menarik yaitu :
Penghargaan yang merusak hubungan karena dengan memberi penghargaan yang memberi dampak terhadap diri sendiri atau sekitarnya, ini alangkah lebih baik tidak lakukan karena ini membentuk efek terhadap diri sendiri bahkan timbul rasa iri dari murid lain.
Penghargaan Mematikan Kreativitas Murid-murid diminta berpikir mengenai hadiah atau penghargaan yang bisa mereka dapatkan bila berhasil menyelesaikan tugas tertentu. Kreatifitas kelompok murid-murid ini menjadi berkurang, dibandingkan dengan yang tidak diberitahukan tentang hadiah yang bisa mereka terima.
Restitusi: Sebuah Pendekatan untuk Menciptakan Disiplin Positif
Bapak Ibu calon guru penggerak, apa yang akan Anda lakukan bila,
- Dalam sebuah acara pesta ulang tahun, teman Anda memecahkan gelas. Apakah Anda akan membiarkan dia membayar harga gelas yang dipecahkannya?
- Anda sudah janji bertemu dengan teman Anda, namun ternyata dia juga memiliki janji penting bertemu orang lain di tempat lain, dan Anda terpaksa naik taksi untuk menemui teman Anda di tempat itu, apakah Anda akan meminta teman Anda membayar biaya taksi Anda menuju ke tempat tersebut?
- Pegawai Anda membuat kesalahan yang menyebabkan kerugian finansial pada perusahaan, pegawai tersebut menawarkan untuk bekerja lembur tanpa bayaran, apakah Anda sebagai pemilik perusahaan akan menerimanya?
Bapak dan Ibu Calon Guru Penggerak,
Bila ada seseorang berbuat salah pada Anda, ketika mereka menawarkan sebuah tindakan untuk memperbaiki kesalahan mereka, kemungkinan besar, jawaban Anda adalah akan menolak semua tawaran itu, dan akan bilang, tidak usah, tidak apa-apa. Lupakan saja.
Kebiasaan kita selama ini, bila ada orang yang berlaku salah pada kita adalah langsung memaafkan, atau bahkan kita melakukan sesuatu yang membuat mereka tidak nyaman atau merasa bersalah. Kita cenderung untuk berfokus pada kesalahan daripada mencari cara bagi orang yang berbuat kesalahan untuk memperbaiki diri. Kita lebih fokus pada pada cara mereka membayar akibat dari kesalahan mereka daripada mengembalikan harga diri mereka. Membuat kondisi menjadi impas, menjadi lebih penting daripada membuat situasi menjadi benar.
Bapak Ibu guru penggerak,
Sebagai seorang guru, ketika murid Anda melakukan kesalahan, tindakan mana yang akan Anda lakukan?
- Menunjukkan kesalahannya dan memintanya melihat kesalahannya baik-baik
- Mengatakan, “Kamu seharusnya tahu bagaimana kamu seharusnya bertindak”.
- Mengingatkan murid Anda akan kesalahannya yang sama di waktu sebelumnya.
- Bertanya padanya, “Kenapa kamu melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kamu lakukan?”.
- Mengkritik dan mendiamkannya
Kalau Anda melakukan tindakan-tindakan di atas, mungkin Anda akan membuat murid Anda merasa menjadi anak yang gagal. Pertanyaannya sekarang, bagaimana sebaiknya respon kita bila ada murid kita melakukan kesalahan? Mari kita baca artikel ini.
Penutup
Demikianlah penjelasan mengenai motivasi, hukuman dan penghargaan, serta restitusi sebagai upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam membangun budaya positif di sekolah. Tentunya, untuk mewujudkan hal ini membutuhkan proses yang yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, proses ini juga membutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan di sekolah.
Jika diperlukan, Bapak/ibu juga dapat mencermati dan mengunduh bahan bacaan tentang Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi pada tautan berikut:
Selanjutnya, silakan lanjutkan untuk mempelajari materi keyakinan kelas.