Eksplorasi Konsep - Modul 2.2. Implementasi pembelajaran sosial dan emosional di kelas dan sekolah
- Senin, 21 Oktober 2024
- Administrator
- 0 komentar
D. Implementasi pembelajaran sosial dan emosional di kelas dan sekolah
Bapak/Ibu CGP, seperti kita pelajari sebelumnya, Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai 5 Kompetensi Sosial dan Emosional.
Mulai dari pengajaran secara eksplisit di kelas hingga kemitraan dengan keluarga dan komunitas untuk terus mengupayakan proses kolaboratif dan berkelanjutan. Indikator penerapan KSE dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
Tabel D. Indikator Penerapan Pembelajaran Sosial dan Emosional
|
KELAS |
Pengajaran eksplisit: Pembelajaran akademik yang terintegrasi KSE: Pelibatan dan Suara murid: |
|
SEKOLAH |
Iklim kelas dan sekolah yang mendukung: Berfokus pada KSE pendidik dan tenaga kependidikan (PTK): Kebijakan yang mendukung: Dukungan terintegrasi yang berkelanjutan: |
|
KELUARGA & KOMUNITAS |
Pelibatan kemitraan dengan orangtua: Kemitraan dengan komunitas: Terbentuk sistem dalam upaya peningkatan berkelanjutan: |
Tabel di atas menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran sosial dan emosional bukan hanya mencakup ruang lingkup kelas dan sekolah, namun juga melibatkan keluarga dan komunitas. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan Tri Sentra (Tiga Pusat Pendidikan) salah satu gagasan Ki Hajar Dewantara yang menerangkan bahwa pendidikan harus berlangsung di tiga lingkungan yaitu, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dengan kolaborasi dan gotong royong, keluarga, sekolah, dan komunitas bersama-sama mewujudkan pendidikan yang berkualitas untuk meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan psikologis murid-murid kita.
Dalam modul 2.2 ini, kita secara khusus membahas 4 indikator pembelajaran sosial dan emosional yang berkaitan dengan kelas dan sekolah, yaitu:
- Pengajaran eksplisit
- Integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik
- Penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah
- Penguatan KSE pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah
Selanjutnya kita akan membahas tiap indikator dan contoh penerapannya.
D.1. Pengajaran Eksplisit
Implementasi PSE dengan pengajaran eksplisit memastikan murid memiliki kesempatan yang konsisten untuk menumbuhkan, melatih, dan berefleksi tentang kompetensi sosial dan emosional dengan cara yang sesuai dan terbuka dengan keragaman budaya. Pengajaran eksplisit KSE dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Pendidik dapat menggunakan berbagai proyek, acara atau kegiatan sekolah yang rutin untuk mengajarkan kompetensi sosial dan emosional secara eksplisit.
Refleksi D.1a. Kesadaran diri
Berikut adalah contoh RPP untuk menggambarkan pengajaran eksplisit 5 KSE. Silahkan cermati dan berikan refleksi Anda setelah mempelajari RPP tersebut.
Refleksi D.1b. Manajemen diri
Berikut adalah contoh RPP untuk menggambarkan pengajaran eksplisit 5 KSE. Silahkan cermati dan berikan refleksi Anda setelah mempelajari RPP tersebut.
Refleksi D.1c. Kesadaran Sosial
Berikut adalah contoh RPP untuk menggambarkan pengajaran eksplisit 5 KSE. Silahkan cermati dan berikan refleksi Anda setelah mempelajari RPP tersebut
Refleksi D.1d. Keterampilan Berelasi
Berikut adalah contoh RPP untuk menggambarkan pengajaran eksplisit 5 KSE. Silahkan cermati dan berikan refleksi Anda setelah mempelajari RPP tersebut.
Refleksi D.1e. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab
Berikut adalah contoh RPP untuk menggambarkan pengajaran eksplisit 5 KSE. Silahkan cermati dan berikan refleksi Anda setelah mempelajari RPP tersebut.
D.2. Integrasi dalam Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik
Untuk mengintegrasikan KSE dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik, tujuan Kompetensi Sosial Emosional dapat diintegrasikan ke dalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada materi akademik, serta musik, seni, dan pendidikan jasmani.
Berikut adalah contoh RPP TK - SMP yang disusun untuk memberikan gambaran bagaimana integrasi KSE dalam 3 bagian Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), yaitu:
- Pembukaan hangat: antara lain dengan memberikan kesempatan pada murid untuk berbicara, mendengarkan aktif, memungkinkan interaksi, menciptakan rasa memiliki, dapat menumbuhkan salah satu kompetensi sosial dan emosional
- Kegiatan inti yang melibatkan: antara lain dengan melakukan diskusi akademik, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis proyek, refleksi diri dan penilaian diri, pemberian suara dan pilihan
- Penutupan optimistik: antara lain dengan refleksi, apresiasi, dan cara-cara positif lainnya untuk memperkuat pembelajaran
Mari belajar bersama dan buatlah refleksi.
Contoh RPP TK : Disini
Contoh RPP SD : Disini
Contoh RPP SMP : Disini
D.3. Menciptakan Iklim Kelas dan Budaya Sekolah
Indikator ketiga dalam implementasi pembelajaran sosial dan emosional adalah menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah.
Salah satu upaya mengubah lingkungan sekolah (iklim kelas dan sekolah), adalah melalui praktik guru dan gaya interaksi mereka dengan murid, atau dengan mengubah peraturan dan harapan sekolah. Dalam modul 1.4 kita sudah membahas bagaimana membangun keyakinan kelas dan peraturan sekolah. Di sini kita akan membahas lebih lanjut bagaimana praktik mengajar guru dan gaya interaksi guru dengan murid.
Lingkungan yang memprioritaskan kualitas relasi antara guru dan murid adalah salah satu indikator utama dalam penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah. Kualitas relasi guru dan murid yang tercermin dalam sikap saling percaya akan berdampak pada ketertarikan dan keterlibatan murid dalam pembelajaran. Sikap saling percaya akan menumbuhkan perasaan aman dan nyaman bagi murid dalam mengekspresikan dirinya. murid-murid akan lebih berani bertanya, mencari tahu, berpendapat, mencoba, berkolaborasi sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dirinya secara lebih optimal. Selain kualitas relasi guru dan murid, lingkungan kelas yang aman dan positif juga dapat diciptakan melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang dapat merangkul keberagaman dan perbedaan, melibatkan murid, dan menumbuhkan optimisme.
Menurut Sri Wahyaningsih, Pendiri Salam (Sanggar Anak Alam) Yogyakarta, yang diwawancarai September 2021, lingkungan sekolah yang aman dan nyaman adalah lingkungan yang membangun persepsi bahwa setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda dan orang lain adalah mitra, bukan saingan. Tugas pendidik adalah membantu anak-anak menemukan jati diri dan mengembangkan potensinya. Persepsi tersebut akan mendorong kentalnya kolaborasi antar murid, guru, maupun orang tua. “Orang tua akan ikut mendukung teman-teman anaknya, karena tidak dilihat sebagai saingan anaknya. Guru-guru pun menjadi lebih produktif dan suportif, saling mendorong rekan sejawat untuk mengembangkan diri.”
D.4. Penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di Sekolah
Silakan cermati dan pelajari materi pada bahan presentasi berikut.
