Mulai dari Diri - Modul 2.2
- Senin, 21 Oktober 2024
- Administrator
- 0 komentar
Tujuan Pembelajaran Khusus:
CGP merefleksikan kompetensi sosial dan emosional dirinya maupun murid
Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak,
Selamat datang dalam fase pertama pembelajaran kita. Mari refleksikan pengalaman berkaitan dengan kompetensi sosial dan emosional, baik diri sendiri maupun murid Anda. Bacalah setiap pertanyaan ini dengan seksama dan refleksikan dengan keterbukaan dan kedalaman. Selamat berefleksi!
Refleksi Kompetensi Sosial dan Emosional
Selama menjadi pendidik, Anda tentu pernah mengalami sebuah peristiwa yang dirasakan sebagai sebuah kesulitan, kekecewaaan, kemunduran, atau kemalangan, yang akhirnya membantu Anda bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
- Apa kejadiannya, kapan, di mana, siapa yang terlibat, apa yang membuat Anda memilih merefleksikan peristiwa tersebut, dan bagaimana kejadiannya?
Kejadian yang pernah saya alami terkait dengan pertanyaan ini adalah didatangi orang tua murid karena saya dianggap salah dalam mengambil kebijakan. Kejadian tersebut terjadi pada tahun 2017 ketika mengajar kelas 9 di SMPN 2 Mandau. Yang terlibat dalam kejadian tersebut adalah saya, orang tua murid, dan guru bimbingan konseling. Saat itu, orang tua murid menelpon saya secara pribadi, dalam percakapan tersebut orang tua mencaci maki dan mendikte saya mengajar dikelas anaknya, karena Jiwa muda yang membara seperti api, gejolak emosi saya meningkat saat itu dan saya tidak menerima diperlakukan seperti itu. Selanjutnya saya minta di tindak lanjuti hal tersebut.
Saya mengambil kebijakan dengan mengirim hasil nilai ujian dalam satu kelas kedalam group wa dan dibaca oleh teman-temannya dalam satu kelas. Anak tersebut mengalami penurunan nilai karena cara belajarnya menurun, padahal anak tersebut selalu menghasilkan terbaik. Pada saat itu ada teman anak ini bertanya kesaya “Pak kenapa nilai si A turun, biasanya selalu terbaik dalam satu kelas” lalu saya jawab “semoga dengan informasi nilai ini, si A dapat melakukan perbaikan dari semua sisi”. Tujuan saya adalah agar anak ini merefleksi diri kenapa menurun dan tidak ada tujuan untuk membuat dia malu.
Ternyata, anak tersebut bukan mengambil positif kenapa dia menurun, tetapi negative dengan mengatakan bahwa saya membuat dia malu didepan teman-temannya dan menangis serta melapor ke orang tuanya. Dan terjadi hal tesebut.
Kesokan harinya, saya langsung membawa anak tersebut ke BK beserta orang tuanya. Kejadian ini menjadi tertatanam di benak yang susah dilupakan adalah Ketika saya dikata “Anda tidak layak menjadi guru”. Padahal tidak ada niat buruk terhadap anak murid saya.
Hal ini membuat saya sedih, terpukul, bertanya-tanya, serta marah yang tidak terkendali. Padahal niat saya baik tidak ada menyinggung perasaan anak tersebut serta menyakiti perasaannya, namun saya seperti jatuh dari pohon tertimpa buah kelapa.
- Bagaimana Anda menghadapi krisis tersebut (coping)? Bagaimana Anda dapat bangkit kembali (recovery) dan bertumbuh (growth) dari krisis tersebut?
Saya menghadapi permasalahan tersebut dengan emosi yang benar-benar tidak terkendali. Bahkan di beberapa hari setelah kejadian, saya merasa agak jengkel dan mendiamkannya serta tidak mau menegur dengan murid tersebut.
Kesadaran diri saya mulai pulih setelah hampir seminggu kejadian. Saat saya melakukan tabayun dengan orang tua murid dimana orang tua murid juga minta maaf kesaya. Saat itu saya kembali bangkit dengan motivasi dari bk yang merupakan rekan kerja serta dari rekan sejawat. Ini adalah pelajaran untuk kearah lebih baik lagi